Iklan Gratis di Mukomukoshare
Free Space

Meraih Khusyu’ Dalam Ibadah (2)

Meraih Khusyu’ Dalam Ibadah

Lebih lanjut, syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman al-Bassam1 menjelaskan dengan lebih rinci, beberapa sebab untuk menghadirkan hati dan meraih khusyu’ dalam shalat, berdasarkan pengamatan terhadap dalil-dalil dalam al-Qur-an dan hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam, akan kami bawakan di sini beserta tambahan keterangan dan penyebutan dalil, sebagai berikut:

1- Berlindung kepada Allah Ta’ala dari (godaan) setan yang terkutuk.


Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda tentang Setan yang selalu mengganggu manusia dalam shalat: “Itu adalah Setan yang bernama Khinzab, jika kamu merasakan (godaannya) maka berlindunglah kepada Allah darinya, dan hembuskanlah sedikit ludahmu ke (arah) kiri tiga kali”. ‘Utsman bin Abil ’Ash Radhiallahu’anhu berkata: Lalu aku praktekkan petunjuk Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam tersebut, maka Allah menghilangkan (godaan) Setan itu dariku2.

2- Merenungi/menghayati (makna) bacaan al-Qur-an dan zikir-zikir dalam shalat.


Karena bacaan al-Qur-an dan zikir-zikir yang disyariatkan dalam Islam akan bermanfaat bagi orang yang membacanya jika dibaca dengan perenungan dan penghayatan dalam hati. Allah Ta’ala berfirman:


{كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ}


“Ini adalah sebuah kitab (al-Qur-an) yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka merenungkan (makna) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

Dalam ayat lain, Dia berfirman:


{إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ}


“Sesungguhnya pada yang demikian itu (al-Qur-an) benar-benar terdapat peringatan (pelajaran) bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang mengkonsentrasikan pendengarannya, sedang dia menghadirkan (hati)nya” (QS Qaaf:37).

3- Menghadirkan kebesaran Allah Ta’ala dan (meyakini) bahwa orang yang shalat sedang bermunajat dan menghadapkan diri kepada-Nya.


Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang shalat sedang bermunajat (berkomunikasi) dengan Allah Ta’ala, maka hendaknya salah seorang darimu memperhatikan bagaimana dia bermunajat dengan Allah, dan janganlah kalian saling mengeraskan suara ketika membaca al-Qur-an (dalam shalat)”3.

4- Mengetahui kelemahan dan ketergantungan manusia ketika dia ruku’ dan sujud terhadap keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala.


Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Termasuk sempurnanya sifat khusyu’ dan ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala ketika dia ruku’ dan sujud adalah tatkala dia merendahkan diri kepada Allah dalam ruku’ dan sujudnya maka pada saat itu dia menyifati-Nya dengan sifat-sifat kemuliaan, kebesaran, keagungan dan ketinggian, seolah-olah hamba itu berkata: “kerendahan dan ketundukan adalah sifatku, sedangkan ketinggian, keagungan dan kebesaran adalah sifat-Mu”. Oleh sebab itu, orang yang shalat disyariatkan membaca (zikir) dalam ruku’nya: subhaana Rabbiyal ‘azhiim (maha suci Rabb-ku/Allah Ta’ala yang maha agung)”, dan dalam sujudnya membaca (zikir): subhaana Rabbiyal a’laa (maha suci Rabb-ku/Allah yang maha tinggi)”4.

5- Membatasi pandangan (matanya hanya) pada tempat sujudnya, karena sesungguhnya jika pandangan itu tersebar (kemana-mana) maka hati (dan pikiran) akan mengikutinya.


Inilah di antara hikmah disyariatkannya meletakkan sutrah (pembatas shalat) di depan orang yang shalat, sebagaimana yang diperintahkan dalam beberapa hadits yang shahih5, untuk membatasi pandangan mata sehingga hati dan pikiranpun akan lebih terkonsentrasi pada shalat yang sedang dikerjakan, maka ini jelas akan memudahkan untuk mencapai khusyu’ dengan izin Allah Ta’ala6.

Oleh karena itu, orang yang sedang shalat disunnahkan agar pandangan matanya tidak melewati tempat sujudnya7.

Bahkan dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam menegaskan bahwa memalingkan pandangan dari tempat sujud adalah tipu daya Setan yang ingin merusak shalat manusia. Dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang orang yang menoleh (memalingkan pandangan) ketika shalat, maka Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda: “Itu adalah rampasan Setan dari shalat seorang hamba”8.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kepada wajah hamba-Nya dalam shalatnya selama hamba-Nya itu tidak memalingkan pandangan”9.

6- Jangan mengerjakan shalat ketika hati/pikiran sedang sibuk (dengan hal lain), seperti keinginan makan dan minum, menahan buang air besar dan kecil, atau hal-hal lain yang mengganggu pikiran.


Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda: “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan dan ketika menahan buang air besar dan kecil”10.

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam ketika shalat mengenakan pakaian yang bercorak (bergambar), setelah selesai shalat beliau Shallallahu’alahi Wasallam bersabda: “Sungguh pakaian ini melalaikanku (mengganggu kekhusyu’anku) ketika aku shalat tadi”11.

Hadits-hadits di atas menunjukkan tidak disukainya shalat dalam keadaan hati dan pikiran disibukkan dengan hal lain, seperti rasa lapar dan haus, atau keinginan untuk buang hajat. Demikian juga shalat dengan pakaian atau di hadapan sesuatu yang bermotif, bergambar, bertulisan, berwarna-warni dan hal-hal lain yang menggangu atau meyibukkan pikiran, karena semua ini akan merusak kekhusyu’an dalam shalat12.

Hukum khusyu’ dalam shalat dan ibadah lainnya


Imam asy-Syaukani berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang (hukum) khusyu’, apakah termasuk kewajiban shalat atau keutamaan (anjuran) dalam shalat”13.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menguatkan pendapat bahwa khusyu’ hukumnya wajib dalam shalat dan beliau membawakan banyak dalil untuk menguatkan pendapat ini14.

Akan tetapi pendapat yang lebih kuat adalah pendapat mayoritas ulama bahwa khusyu’ bukan merupakan kewajiban dalam shalat, sehingga shalat yang dilakukan dengan tidak khusyu’ tetap sah dan mencukupi, meskipun jelas pahala dan keutamaannya sangat berkurang15. Maka shalat yang didominasi oleh kelalaian dan bisikan-bisikan Setan tidaklah batal dan tidak disyariatkan untuk diulang, meskipun jelas nilai pahala dan keutamaannya sangat kurang16.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Pendapat yang benar: khusyu’ adalah sunnah (anjuran), akan tetapi anjurannya sangat ditekankan (sunnatun muakkadah). Karena khusyu’ adalah ruh shalat yang sebenarnya. Maka shalat (yang dikerjakan) tanpa menghadirkan hati (khusyu’) tidak lain (ibaratnya seperti) kulit tanpa isi dan pahala/keutamaan shalat akan berkurang sesuai dengan berkurangnya kekhusyu’an”17.

Di antara dalil yang menunjukkan tidak wajibnya khusyu’ adalah hadits-hadits yang shahih tentang sujud sahwi, juga sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang Setan yang mengganggu hamba yang shalat sehingga hamba tersebut tidak mengetahui berapa rakaat shalat yang telah dikerjakannya18. Dalam hadits-hadits ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak memerintahkan shalat tersebut untuk diulangi, padahal jelas shalat tersebut dilakukan tanpa menghadirkan hati dan khusyu’19.

Kesimpulannya, dalam hal ini para ulama bersepakat bahwa shalat yang dikerjakan seorang hamba tidak akan meraih pahala dan keutamaan kecuali sesuai dengan kadar kekhusyu’an dan kehadiran hatinya dalam shalat tersebut. Maka shalat tanpa khusyu’ tetap dikatakan sah, dalam artian tidak perlu diulangi, meskipun jelas pahala dan keutamaannya sangat sedikit20.

Syubhat (kerancuan dan kesalahpahaman) tentang khusyu’


Beberapa perbuatan yang dianggap oleh orang-orang bodoh termasuk bentuk khusyu’ padahal sama sekali bukan khusyu’, di antaranya:

1- Khusyu’ nifaq (khusyu’ munafik), yaitu anggota badan yang terlihat tunduk dan tenang padahal hatinya lalai dan jauh dari khusyu’.


Hudzaifah bin al-Yaman berkata radhiallahu’anhu: “Jauhilah khusyu’ munafik”. Seseorang bertanya kepada beliau: Apa itu khusyu’ munafik? Hudzaifah radhiallahu’anhu berkata: “(Yaitu) kamu melihat (anggota) badan yang (seolah-olah) khusyu’ padahal hatinya tidak khusyu’”21.

Inilah makna ucapan ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu’anhu, ketika beliau melihat seorang pemuda yang tertunduk kepalanya, beliau  berkata: “Wahai pemuda, angkatlah kepalamu, karena sesungguhnya khusyu’ itu tidak lebih dari apa yang ada di dalam hati”22.

Dalam atsar lain, Ummul mu’minin ‘Aisyah radhiallahu’anha melihat beberapa orang pemuda yang terlihat lemas ketika berjalan, ‘Aisyah radhiallahu’anha bertanya: “Siapakah mereka itu”? Orang-orang menjawab: Mereka adalah ahli ibadah. Maka `’Aisyah radhiallahu’anha berkata: “Dulunya ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu’anhu kalau berjalan (langkahnya) cepat, kalau berbicara (suaranya) keras, kalau memukul (pukulannya) menyakitkan dan kalau dia memberi makan mengenyangkan, padahal beliau adalah ahli ibadah yang sejati”23.

Imam Ibnu Rajab berkata: “Barangsiapa yang menampakkan (seolah-olah) khusyu’ (padahal) berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya maka itu tidak lain adalah kemunafikan di atas kemunafikan”24.

2- Persangkaan sebagian dari orang-orang awam yang mengatakan bahwa ibadah yang khusyu’ adalah ibadah yang dikerjakan oleh seseorang tanpa ada bisikan, was-was dan godaan setan dalam hatinya.


Jelas ini merupakan persangkaan yang sangat keliru, karena tidak mungkin Iblis dan bala tentaranya pernah berhenti atau libur menggoda dan berusaha menghalangi manusia dari jalan kebaikan, apalagi kebaikan besar yang mendatangkan keridhaan Allah Ta’ala, yaitu beribadah dengan khusyu’. Dalam al-Qur-an, Allah Ta’ala menceritakan ucapan dan tekad Iblis untuk memalingkan manusia dari semua jalan kebaikan:


{قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ}


“Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (QS al-A’raaf).

Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Setan (Iblis) akan selalu duduk (menghalangi) manusia pada semua jalan (kebaikan yang akan ditempuhnya)”25.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tidak ada satu jalan kebaikanpun kecuali Setan selalu menghadang untuk menghalangi orang yang ingin mengerjakannya”26.

Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan dalam hadits yang shahih tentang adanya Setan yang tugasnya menggoda manusia dalam shalatnya, yaitu ketika ‘Utsman bin Abil ’Ash radhiallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Setan menghalangiku (menggodaku) dalam shalat dan mengacaukan bacaanku (dalam shalat). Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Itu adalah Setan yang bernama Khinzab, jika kamu merasakan (godaannya) maka berlindunglah kepada Allah darinya, dan hembuskanlah sedikit ludahmu ke (arah) kiri tiga kali”. ‘Utsman bin Abil ’Ash radhiallahu’anhu berkata: Lalu aku praktekkan petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut, maka Allah menghilangkan (godaan) Setan itu dariku27.

Oleh karena itu, upaya Setan untuk selalu menggoda manusia dalam ibadah mereka agar mereka jauh dari sifat khusyu’ tentu besar sekali, karena semakin besar pahala dan keutamaan suatu amal kebaikan, maka semakin besar pula usaha Setan untuk menghalangi manusia darinya.

Maka jika ada orang yang menyangka bahwa ketika dia beribadah tidak diganggu oleh Setan, maka ini ini justru menimbulkan kecurigaan dan pertanyaan; apakah memang hatinya sedemikian parah kerusakannya sehingga Setan tidak merasa perlu untuk menggodanya? Karena kalau imannya benar dan hatinya khusyu’ maka bagaimana mungkin Setan akan membiarkannya dan tidak berusaha merusak kekhusyu’annya?

Bahkan boleh jadi semua ini justru merupakan bukti nyata kuatnya kedudukan dan tipu daya setan bersarang dalam diri mereka. Karena bagaimana mungkin setan akan membiarkan manusia merasakan ketenangan iman dan tidak membisikkan was-was dalam hatinya?

Imam Ibnul Qayyim membuat perumpaan hal ini28 dengan seorang pencuri yang ingin mengambil harta orang lain; manakah yang akan selalu diintai dan didatangi oleh pencuri tersebut: rumah yang berisi harta dan perhiasan yang melimpah atau rumah yang kosong melompong bahkan telah rusak?

Jawabnya: jelas rumah pertama yang akan ditujunya, karena rumah itulah yang bisa dicuri harta bendanya. Adapun rumah yang kedua, maka akan “aman” dari gangguannya karena tidak ada hartanya, bahkan mungkin rumah tersebut merupakan lokasi yang strategis untuk dijadikan tempat tinggal dan sarangnya.

Demikianlah keadaan hati manusia, hati yang dipenuhi tauhid, keimanan yang kokoh dan selalu khusyu’ kepada Allah Ta’ala, akan selalu diintai dan digoda setan untuk dicuri keimanannya dan dirusak kekhusyu’annya, sebagaiamana rumah yang berisi harta akan selalu diintai dan didatangi pencuri.

Oleh karena itu, dalam sebuah hadits shahih, ketika salah seorang sahabat radhiallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membisikkan (dalam) diriku dengan sesuatu (yang buruk dari godaan setan), yang sungguh jika aku jatuh dari langit (ke bumi) lebih aku sukai dari pada mengucapkan/melakukan keburukan tersebut. Maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar, segala puji bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan menjadi was-was (bisikan dalam jiwa)”29.

Dalam riwayat lain yang semakna, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Itulah (tanda) kemurnian iman”30.

Dalam memahami hadits yang mulia ini ada dua pendapat dari para ulama:

Penolakan dan kebencian orang tersebut terhadap keburukan yang dibisikkan oleh setan itulah tanda kemurnian iman dalam hatinya

Adanya godaan dan bisikkan setan dalam jiwa manusia itulah tanda kemurnian iman, karena setan ingin merusak iman orang tersebut dengan godaannya31.

Adapun hati yang rusak dan jauh dari sifat khusyu’ ketika beribadah kepada Allah Ta’ala, maka hati yang gelap ini terkesan “tenang” dan “aman” dari godaan setan, karena hati ini telah dikuasai oleh setan, dan tidak mungkin “pencuri akan mengganggu dan merampok di sarangnya sendiri”.

Inilah makna ucapan sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhu, ketika ada yang mengatakan kepada beliau: Sesungguhnya orang-orang Yahudi menyangka bahwa mereka tidak diganggu bisikan-bisikan (setan) dalam shalat mereka. Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhu menjawab: “Apa yang dapat dikerjakan oleh setan pada hati yang telah hancur berantakan?”32.

Penutup


Dalam al-Qur-an Allah Ta’ala mengajak orang-orang yang beriman untuk meraih sifat khusyu’ dengan mempelajari dan memahami petunjuk-Nya, Allah Ta’ala berfirman:


{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نزلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ}


“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka kepada peringatan dari Allah (al-Qur-an) dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturnkan al-kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS al-Hadiid: 16).

Ayat ini memberikan motivasi bagi orang-orang yang beriman untuk bersungguh-sungguh meraih sifat khusyu’ dalam hati mereka, sekaligus merupakan celaan bagi orang-orang yang tidak mau tunduk hatinya ketika membaca, mendengarkan dan merenungkan isi ayat-ayat al-Qur-an33.

Kalau hati manusia tidak juga mau berubah dan tunduk ketika membaca dan merenungkan firman Allah Ta’ala, maka kapan lagi hatinya akan tunduk dan menjadi baik?

Oleh karena itu, peringatan dan ancaman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an hanyalah akan bermanfaat dan memberikan kebaikan bagi orang-orang yang hatinya hidup, beriman kepada Allah Ta’ala dan takut terhadap azab-Nya. Allah Ta’ala berfirman:


{إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ. لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ}


“al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir” (QS Yaasiin: 69-70).

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala juga berfirman:


{فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ }


“Maka berilah peringatan dengan al-Qur’an kepada orang yang takut kepada ancaman-Ku” (QS Qaaf: 45).

Adapun orang-kafir dan munafik, maka peringatan dan ancaman dalam al-Qur’an tidak bermanfaat bagi mereka, karena hati mereka tidak mengimaninya. Allah Ta’ala berfirman:


{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ}


“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman” (QS al-Baqarah: 6).

Juga firman-Nya tentang orang-orang munafik:


{وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ}


“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka mau mendengar (peringatan Allah dalam al-Qur’an). Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)” (QS al-Anfaal: 23).

Semoga Allah memudahkan taufik-Nya kepada kita untuk meraih sifat khusyu’ dan sifat-sifat mulia lainnya dengan memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya. Sesungguhnya Dia  maha mendengar lagi mengabulkan doa.


وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


*******

1 Dalam kitab “Taudhiihul ahkaam min buluugil maraam” (2/83).

2 HSR Muslim (no. 2203).

3 HR Ahmad (2/67) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syakh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 1603).

4 Kitab “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 28).

5 Misalnya HSR Muslim (no. 500, 505 dan 506) dan lain-lain.

6 Lihat kitab “Taudhiihul ahkaam” (2/58 dan 2/66).

7 Lihat kitab “Shifatu shalaatin Nabiyyi Shallallahu’alaihi Wasallam” (hal. 89).

8 HSR al-Bukhari (no. 718 dan 3117).

9 HR at-Tirmidzi (5/148) dan Ibnu Khuzaimah (3/195), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan syaikh al-Albani.

10 HSR Muslim (no. 560).

11 HSR al-Bukhari (no. 366 dan 5479) dan Muslim (no. 556).

12 Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam “Syarhu shahih Muslim” (5/46) dan syaikh ‘Abdullah al-Bassam dalam “Taudhiihul ahkaam” (2/98).

13 Kitab “Fathul Qadiir” (3/678).

14 Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “Fathu Dzil jalaali wal ikraam bisyarhi buluugil maraam” (1/571).

15 Lihat keterangan syaikh ‘Abdullah al-Bassam dalam kitab “Taudhiihul ahkaam” (2/83).

16 Lihat kitab “Fathu Dzil jalaali wal ikraam” (1/571) dan “Taudhiihul ahkaam” (2/93).

17 Kitab “Fathu Dzil jalaali wal ikraam bisyarhi buluugil maraam” (1/571).

18 HSR al-Bukhari (no. 583) dan Muslim (no. 389).

19 Lihat kitab “Mada-rijus saalikiiin” (1/112) dan “Fathu Dzil jalaali wal ikraam” (1/571).

20 Lihat kitab “Mada-rijus saalikiiin” (1/112-113).

21 Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Mada-rijus saalikiin” (1/521) dan imam Ibnu Rajab dalam “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 14).

22 Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 14).

23 Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Mada-rijus saalikiin” (1/521).

24 Kitab “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 14).

25 HR Ahmad (3/483), an-Nasa-i (6/21) dan Ibnu Hibban (10/453), dinyatakan shahih oleh imam Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.

26 Kitab “Ighaatsatul lahfaan” (1/102).

27 HSR Muslim (no. 2203).

28 Dalam kitab beliau “al-Waabilush shayyib” (hal. 40-41).

29 HR Ahmad (1/235) dan Abu Dawud (no. 5112).

30 HSR Mualim (no. 132).

31 Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Fawaa-id” (hal. 174).

32 Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “al-Waabilush shayyib” (hal. 41).

33 Lihat kitab “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 18) dan “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 840).

*******

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA.

0 Response to "Meraih Khusyu’ Dalam Ibadah (2)"

Posting Komentar

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda.